Jumat, 27 Agustus 2010

Hutan Bakau dan ekosistem pantai

Karya ilmiah
Berkurangnya jumlah pohon bakau
Di ekosistem pantai




Di susun oleh:
1. Hafir Ariyanto
2. M. rifqi Tantowi
3. Pandu seto W
4. Ridwan Adi Yudha
5. Sandy yanuar P
6. Tevan Adi Satria


Kata pengantar

Puji syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan kasih, karunia, dan pertolongan-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan karya ilmiah tentang ekosistem lingkungan dengan judul “BERKURANGNYA JUMLAH POHON BAKAU EKOSISTEM PANTAI” yang merupakan tugas yang kami dapat dari guru kami Bu Farida.

Pelaksanan dan penulisan karya ilmiah ini dapat diselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Akhir kata, kami menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Mudah mudahan karya ilmiah bisa berguna untuk proses belajar mengajar. Kami ucapkan terima kasih




Semarang, 26 agustus 2010
Pembuat karya ilmiah
( )
Kelompok 6


Bab i
pendahuluan

HUTAN MANGROVE

Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Kata mangrove adalah kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Adapun dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan untuk menunjuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut maupun untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedangkan dalam bahasa portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut.

Sebagian ilmuwan mendefinisikan, hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Sebagian lainnya mendefinisikan bahwa hutan mangrove adalah tumbuhan halofit (tumbuhan yang hidup pada tempat-tempat dengan kadar garam tinggi atau bersifat alkalin) yang hidup disepanjang areal pantai yang dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah mendekati ketinggian rata-rata air laut yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.

Secara ringkas hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama di pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Ada beberapa istilah lain dari hutan mangrove antara lain: Tidal Forest (hutan pasang surut), Coastal Woodland (kebun kayu pesisir), Hutan Payau, dan Hutan bakau.

Ekosistem hutan bakau bersifat khas baik karena adanya pelumpuran tadi yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah; salinitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.







Ciri-ciri hutan bakau:

1. Kadar garam air dan tanah tinggi.

2. Kadar O2 dalam air dan tanah rendah.

3. Saat air pasang, lingkungan banjir, saat air surut lingkungan becek dan berlumpur.

Fungsi ekologis hutan mangrove

Hutan mangrove mempunyai fungsi ekologis sebagai berikut:
1. sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung pantai dari abrasi, penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkat oleh aliran air permukaan.
2. sebagai penghasil sejumlah besar detritus, terutama yang berasal dari daun dan dahan pohon mangrove yang rontok. Sebagian dari detritus ini dimanfaatkan sebagai bahan makanan bagi para pemakan detritus dan sebagian lagi diuraikan secara bakterial menjadi mineral-mineral hara yang berperan dalam penyuburan perairan.
3. sebagai daerah asuhan (nursery ground), daerah mencari makanan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan (ikan, udang dan kerang-kerangan…)baik yang hidup di perairan pantai maupun lepas pantai

Fauna yang hidup hutan mangrove

Kelompok fauna perairan/akuatik, terdiri atas dua tipe, yaitu:

a. yang hidup di kolom air, terutama berbagai jenis ikan dan udang.
b. yang menempati substrat baik keras (akar dan batang pohon mangrove) maupun lunak (lumpur), terutama kepiting, kerang dan berbagai jenis avertebrata lainnya


Luas dan Penyebaran

Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan hanya sedikit yang ada di wilayah subtropika.

Luas hutan bakau Indonesia berkisar antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, dan merupakan hutan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil yang memiliki hutan mangrove seluas 1,3 juta hektar, Nigeria yang memiliki hutan mangrove seluas 1,1 juta hektar dan Australia yang memiliki hutan mangrove seluas 0,97 hektar (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999).

Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di sekitar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan.

Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.



Bentuk adaptasi:

Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau, tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.

Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.

Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, seperti Rhizophora mangle, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar, sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.
Pada pihak yang lain, mengingat sukarnya memperoleh air tawar, vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik, sehingga mengurangi evaporasi dari daun













Bab ii
Isi

A. Penyebab Berkurangnya jumlah pohon bakau di ekosistem pantai.
Sekarang ini hutan mangrove di Indonesia hanya berjumlah Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) tetapi sekarang ini sudah mulai berkurang.

Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan.
Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia. Tetapi sekarang hutan mangrove di Indonesia berkurang meskipun tidak kritis sepenuhnya, karena Indonesia merupakan salah satu dari paru paru dunia.

Penyebab utama kejadian ini karena faktor alam dan faktor perbuatan manusia.

1. Faktor alam

A. Abrasi

Berkurangnya jumlah hutan bakau di Indonesia disebabkan oleh abrasi. Meskipun hutan bakau di tanam dengan tujuan untuk mencegah terjadinya abrasi tetapi perkembangbiakan hutan bakau juga terkena dampak pengaruh abrasi itu sendiri. Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai akibat abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun manusia sering disebut sebagai penyebab utama abrasi.

B. Angin

Angin juga berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon bakau dan kerusakan pada hutan bakau. Misalnya jika terjadi angin pantai yang besar seperti angin putting beliung pada suhu udara dan tekanan yang rendah yang terjadi di kawasan pantai maka akan merusak banyak pohon bakau. Angin juga berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon bakau. Jika suhu udara tidak terkendali maka pertumbuhan hutan bakau tidak bisa tumbuh

C. Kelembaban

Kelembaban juga berpengaruh meskipun hanya sedikit dampaknya. Pohon bakau hanya dapat tumbuh dikawasan tropis dan hanya dapat tumbuh disuhu udara tinggi biasanya tumbuh di Negara yang memiliki iklim tropis kecuali di daerah guru pasir. Pohon bakau juga tidak dapat tumbuh dikawasan tundra atau daerah yang beriklim dingin. Kelembaban juga dalam arti kapasitas air yang mengenai tanaman itu. Maksudnya pohon bakau hanya bisa dapat tumbuh dikawasan pantai yang penuh dengan air, pohon bakau tidak dapat tumbuh dikawasan pegunungan. Suhu udara cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon bakau. Suhu yang panas sangat cocok untuk pertumbuhan pohon bakau.

D. Organisme yang ada di hutan bakau.

Organisme yang ada di hutan bakau juga berpengaruh terhadap pertumbuhan hutan bakau contohnya saja sekarang ini akibat dampak global warming yang mengakibatkan jumlah ulat bulu atau hama tanaman yang memakan bakau menjadi meningkat. Dengan pesatnya jumlah wabah hama menyebabkan tanaman bakau rusak dan sulit untuk berkembang.


2. Faktor Manusia

A. Pertambangan pasir

Menurunnya jumlah hutan bakau juga dikarenakan ulah manusia contohnya saja pertambangan pasir di pantai. Maksudnya manusia mengambil hasil sumber daya alam yang berupa pasir di pantai sehingga merusak tumbuhan bakau dan juga mengurangi lahan untuk tumbuh dan berkembangnya pohon bakau misalnya pengambilan dan perluasan lahan untuk pertambangan pasir.

B. Pembangunan
Diera globalisasi ini semakin pesat laju pembangunan itu juga berpengaruh terhadap pertumbuhan hutan bakau.
Misalnya lahan tempat bertumbuhnya hutan bakau dibabat habis untuk digunakan sebagai tempat pembangunan untuk kawasan industri, hotel ataupun pemungkiman penduduk.

C. Penggunaan pohon bakau

Pohon bakau sering kali ditebang oleh para warga disekitar hutan bakau atau di luar hutan bakau untuk di pakai dalah kehidupan sehari. Karena setiap bagian tanaman itu dapat digunakan. Misal kulit tanaman bakau bias dijadikan genteng rumah, ranting dan batangnya digunakan sebagai kayu bakar.


3. Faktor Kecelakaan

Meskipun tak berpengaruh besar tetapi fak tor kecelakaan juga mempengaruhi kehidupan pohon bakau. Misalnya kecelakaan yang dialami oleh kapal pengangkut bahan kimia atau kapal tanker pengangkut minyak bumi. Kapal tersebut bisa saja mengalami kebocoran pada tanki penyimpanan bahan bahan berbahaya yang diangkutnya sehingga bahan tersebut dengan pengaruh ombak bias saja sampai ke sekitar pantai dan itu menyebabkan pencemaran pada ekosistem pantai sehingga tumbuhan bakau (dan organisme lainnya ) mati.




B. Efek yang Di Timbulkan Terhadap Organisme Lain.

Menurunnya jumlah hutan bakau dapat mempengaruhi kehidupan berbagai organisme yang hidup di dalam maupun di luar habitat hutan bakau karena hutan bakau sebagai berperan sebagai produsen utama dan tempat tinggal bagi sebagian besar organisme yang hidup di sekitar hutan bakau, dan juga organisme yang ada di ekositem pantai lainnya. Misalnya burung-burung yang biasanya bersarang/bertempat tinggal di hutan bakau, kini telah hilang atau pergi. Karena tempat tinggalnya telah berkurang sehingga burung-burung pergi mencari habitat baru. Jika tidak menemukan maka dia akan punah.


Juga ikan-ikan yang biasanya berkembang biak di sekitar hutan bakau mati, karena intensitas cahaya yang masuk, biasanya terhalang oleh pohon-pohon bakau tetapi karena jumlah tumbuhan bakau yang berkurang sehingga intensitas cahaya tidak lagi terhalangi dan menyebabkan suhu air disekitar hutan bakau menjadi meningkat. Sehingga ikan-ikan yang mati kepanasan, karena pohon bakau juga merupakan tempat tinggal ikan untuk berteduh dari sinar matahari.

D. Pengaruh penurunan jumlah hutan bakau terhadap rantai makanan

Selain sebagai tempat tinggal bagi ekosistem pantai, Hutan bakau juga berperan sebagai produsen utama pada ekosistem tersebut. Tentunya semua organisme yang hidup disana (atau bisa disebut ekosistem pantai) bergantung dengan adanya hutan bakau. Jika populasi hutan bakau sebagai sumber makanan berkurang maka para herbifora atau konsumen tingkat 1 mati kelaparan karena kekurangan makanan. Dan itu menyebabkan sulitnya konsumen tingkat berikutnya kesulitan mencari makanan ( konsumen tingkat 1/herbifora). Maka akan mengakibatkan perubahan yang besar pada rantai makanan yang ada.



Contoh: jika jumlah pohon bakau menurun intensitas cahaya yang masuk biasanya terhalang oleh pohon-pohon bakau tetapi sekarang tumbuhan bakau yang berkurang sehingga intensitas cahaya tidak lagi terhalangi dan menyebabkan suhu air disekitar hutan bakau menjadi meningkat. Sehingga ikan-ikan yang mati kepanasan. Jumlah ikan-ikan kecil yang menurun akan berimbas kepada pemakannya yaitu katak, udang, ikan-ikan besar, kepiting, dll yakni berkurangnya populasi mereka karena keterbatasan makanan yang tersedia.

Pohon bakau juga menjadi salah satu sumber makanan bagi burung-burung pemakan biji pohon mangrove atau bakau. Jika jumlah pohon bakau berkurang maka jumlah burung-burung tersebut juga akan berkurang karena stok makanan yang ada berkurang. Jumlah katak, udang, ikan besar, burung pemangsa ikan dan burung pemakan biji yang berkurang jumlahnya akan berpengaruh pada konsumen tingkat atas seperti ular atau burung pemangsa.

Dapat disimpulkan bahwa populasi pohon bakau adalah sumber energy makanan utama dan juga berfungsi sebagai penyeimbang bagi ekosistem pantai.



Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hutan bakau memiliki peranan yang sangat penting dalam ekosistem pantai dan memiliki peranan penting dalam keseimbangan rantai makanan dan lingkungannya. Dengan berkurangnya jumlah hutan bakau atau hutan mangrove, banyak sekali dampak yang timbul yakni merugikan lingkungan pantai dan air. Bisa jadi berkurangnya hutan bakau bisa menjadi faktor utama kepunahan populasi organisme pantai.

Berkurangnya hutan bakau biasanya disebabkan oleh dua faktor yakni faktor alam dan faktor perbuatan manusia. Tetapi faktor yng paling besar pengaruhnya adalah faktor perbuatan manusia yang tak peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Dengan demikian dapat kita sadari bahwa hutran bakau adalah kekayaan alam yang diberikan oleh tuhan yang harus kita jaga dan lestarikan. Supaya anak cucu kita dapat merasakan manfaat dari hutan bakau atau hutan mangrove tersebut.

Akhir kata, “JAGALAH KELESTARIAN HUTAN BAKAU KITA DEMI KEHIDUPAN DIMASA YANG AKAN DATANG.”





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar